Hidup dikeluarga dari seorang tenaga pendidik memang menjadi hidup seorang Collin. Ayah dan Ibunya bekerja sebagai seorang guru di kota tempatnya tinggal. Sejak kecil Collin selalu berprestasi baik di sekolah maupun diluar sekolah, dan atas semua prestasi itu ayah dan ibunya sangat bangga padanya. Saat ini Collin adalah seorang siswi di SMP negeri dikotanya, dan layaknya seorang remaja lainnya, dia sangat menyukai hal-hal yang berbau budaya Korea baahkan bahasa Korea.
Namun, hal tersebut sangat bertentangan dengan ayahnya Collin. Ayahnya menganggap bahwa menyukai budaya dan bahasa orang itu sangat buruk. Hal itu bisa mempengaruhi adat istiadat di daerahnya. Sejak saat itu, Collin sangat dilarang keras untuk menyukai hal-hal yang berbau budaya luar, ia hanya boleh belajar bahasa Inggris (karna memang kewajibannya disekolah). Setiap Collin ketahuan belajar bahasa Korea, maka semua buku yang dibelinya tersebut pasti selalu habis dibakar ayahnya. Ibunya sudah mengatakan hal-hal positif dari belajar tentang bahasa negeri orang, tapi ayahnya sangat keras kepala, bahkan ibunya Collin pun hampir dipukuli karna membela anaknya tersebut. Collin hanya bisa menangis, tapi walaupun ia dilarang oleh Ayahnya, Collin tetap berusaha mengembangkan apa yang dipelajarinya tersebut.
Tak terasa waktu telah berlalu, kini Collin telah duduk dikelas XII SMA dikotanya. Walaupun sudah SMA, Collin tetap tak diizinkan ayahnya untuk belajar bahasa selain bahasa Inggris. Collin hanya bisa pasrah terhadap sikap ayahnya, dia hanya bisa berdoa, bahwa suatu saat hobinya itu akan diterima oleh ayahnya.
Tiba-tiba,kota tempat Collin berubah menjadi ramai. Kantor di Sekolah tempat ayah Collin mengajar didatangi oleh seorang mahasiswa korea yang sedang melakukan penelitian di Indonesia. Collin yang mendengar hal itu,tidak mau menyia nyiakan praktek speaking "gratis" bersama mahasiswa tersebut. Ketika Collin datang, Ia melihat begitu banyak orang (termasuk ayahnya) hanya bisa memandang wajah mahasiswa tersebut tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan si mahasiswa. Ketika ditanya, translator bagi si mahasiswa itu sakit, sehingga Ia harus melakukan penelitian tanpa translator dan hanya cuap-cuap berbahasa Inggris yang (lumayan) baik.
Collin pun maju dan berbahasa korea dengan sangat lancar, Ia membantu mengartikan bahasa Indonesia ke bahasa Korea kepada si mahasiswa, dan begitupun sebaliknya, Ia membantu mengartikan pertanyaan berbahasa korea ke bahasa Indonesia kepada para guru disitu. Semua orang takjub mendengarnya, bahkan ketika Bupati yang menjabat disitu mendengar keahlian berbahasa asing Collin yang lancar, ia tak segan-segan memberikan Beasiswa bagi Collin untuk melanjutkan sekolah ke universitas negeri terbaik di Indonesia untuk mengasah keahlian berbahasa asingnya.
Akhirnya, ayah Collin yang melihat bakat anaknya begitu berharga dimata semua orang menjadi sangat bangga terhadap collin dan meminta maaf karna telah mengekang bakat yang seharusnya dikembangkan itu. Ibu Collin juga sangat bangga atas Collin, dan begitupun Collin yang sangat berbahagia ketika mendengar ia mendapatkan beasiswa dari daerah, tetapi Ia lebih bangga karna pada akhirnya bakat collin mampu membuat ayahnya tersenyum bangga.
"Sekecil apapun bakat itu, Bakat bukanlah sebuah permainan yang seandainya salah bisa diulang kembali, bakat ini adalah sesuatu yang sudah Tuhan berikan dan yang harus kita kembangkan agar bisa lebih berguna baik bagi kedua orangtua, teman-teman, bahkan Negeri kita yang tercinta ini,Indonesia". -OWNER-
Komentar
Posting Komentar